
GEORIFQI - Jejak peninggalan Kerajaan Majapahit masih dapat terlihat hingga kini. Sebagai kerajaan yang kekuasaanya konon mencapai Madagaskar (Afrika Selatan) itu, juga memiliki seni arsitektur yang cukup tinggi. Terbukti hingga saat ini Kerajaan Majapahit banyak meninggalkan candi, khususnya di wilayah Mojokerto yang diduga sebagai pusat kerajaan semasa diperintah Raja Hayam Wuruk.
Salah satunya adalah Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Candi setinggi 9,6 meter itu terdiri dari tumpukan batu bata berbagai ukuran. Meski tanpa semen sebagai perekat antara batu bata satu dan lainnya, namun Candi Brahu tetap berdiri kokoh hingga saat ini.
Pintu masuk ke dalam candi berada di sebelah barat. Selain terdapat tangga yang merupakan susunan batu bata merah, di bagian tengah candi terdapat bilik dengan ukuran pintu 4 x 4 meter. Sayangnya, para pengunjung tidak boleh masuk ke candi yang selesai dipugar pada 1995.
Candi yang berdiri kokoh di areal persawahan itu tidak menunjukkan adanya relief-relief. Berbeda ketika candi dalam sususan batu andesit yang terukir berbagai relief. Di bagian luar candi tampak beberapa bidang kosong yang tidak beraturan. Saat Okezone berkunjung ke lokasi, terlihat bekas sesaji untuk ritual warga. Sesaji tersebut tepat berada di tangga pintu masuk candi.
Data yang dihimpun, ada yang menyebut Candi Brahu bukan dibangun oleh Kerajaan Majapahit melainkan pada masa Kerajaan Mataram Kuno di bawah pemerintahan Mpu Sindok. Hal itu dijelaskan dengan nama Brahu yang dihubungkan dengan kata 'Wanaru' atau 'Waharu' yakni nama sebuah bangunan suci keagamaan yang disebut dalam prasasti 'Alansantan' yang ditemukan sekira 45 mter di sebelah barat Candi Brahu.
Prasasti itu dibuat pada 861 Saka atau tepatnya, 9 September 939 M atas perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Dari penuturan prasasti itu dijelaskan bahwa Candi Brahu yang didirikan oleh masa Mpu Sindok merupakan candi yang usianya lebih tua dibanding candi-candi lain bahkan lebih tua dari Kerajaan Majapahit.
Pada masa Kerajaan Majapahit, Candi Brahu digunakan sebagai tempat persembayangan atau merupakan bangunan suci yang digunakan untuk berdoa. Hal itu dapat dilihat dari temuan-temuan di candi seperti beberapa benda yang kerap menjadi alat-alat upacara keagamaan dari logam.
Salah satu pengunjung Candi Brahu asal Surabaya, Tofan (35), yang ditemui di lokasi, mendapat cerita bahwa candi Brahu merupakan tempat abu dari kepala Raja Blambangan, Minakjinggo.
"Ya saya dapat cerita itu. Terlepas benar atau salah saya tidak tahu. Katanya waktu itu saat perang dengan Damarwulan, Raja Minakjinggo tidak bisa dibunuh karena saking saktinya. Akhirnya, saat dipenggal kepalanya kemudian dibakar dan abunya di taruh di atas candi itu," ujar Tofan.
Kendati demikian, sebagian warga meyakini Candi Brahu merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit yakni terlihat dari susunan candi berupa batu bata merah. Ada beberapa candi yang terdiri susunan batu bata merah di Mojokerto di antaranya, Candi Bajangratu, Tikus dan Waringin Lawang. Meski berbeda waktu pendirian namun material penyusun sama.